Bingung sebetulnya untuk melanjutkan alur tulisan ini karena menurut saya paragraf pembukanya terlalu formal dan pragmatis, hal tersebut bukan bidang saya sebagai bloger yang menulis sekedar menulis menuangkan apa yang terlintas dalam bentuk untaian kata tak beraturan yang bahkan sangat mungkin jauh menyimpang dari kaedah penulisan bahasa indnesia yang baik dan benar.

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengangkat kembali cerita seputar pengalaman berkebun cabe organik, dengan mengangkat cerita asal mula terjadinya kegiatan berkebun tersebut. Bercocok Tanam Dengan Modal 200 Ribu.
Berawal dari melihat sebidang tanah peninggalan bapak yang sudah cukup lama tidak ditanami budi daya pertanian ataupun perkebunan. Entah berapa kali musim tanam lahan tersebut kosong hanya ditumbuhi rerumputan dan dijadikan lapangan permainan bola ketika sore menjelang petang.
Melihat kondisi tersebut, sebagai anak mantri pertanian dan hidup dilingkungan petani terasa miris melihat kondisi lahan yang seakan terbengkalai tersebut. Sebetulnya bukan ingin membiarkan lahan tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan bercocok tanam, kondisi perekonomian keluarga yang menjadi salah satu faktor penyebab selain semangat dan keinginan yang merupakan faktor utama yang menjadi penghambat dalam melaksanakan suatu usaha ataupun kegiatan. Terlebih lagi dengan ucapan ibu yang selalu merasa kasihan dengan lahan yang dibiarkan kosong tersebut dan ditumbuhi rumput liar.
Berawal dari kondisi tersesbut, serta niat untuk mencoba berinvestasi melalui pertanian. yang dimaksud dengan berinvestasi bukan dengan modal yang besar, bahkan bisa dikatakan saya sedang tidak memiliki modal untuk melakukan kegiatan pertanian.
Memiliki uang sebesar 200 ribu rupiah langkah tersebut dimulai dengan melakukan penggarapan lahan. Mendatangkan mesin pembajak sawah dengan biaya kalau tidak salah waktu itu saya membayar 160 ribu. 200 ribu cukup dengan biaya lain kurang lebihnya.
Selesai pembajakan cukup lama belum diapa-apakan, sebagai alasan utama biar kering rumputnya, benih belum siaplah padahal kondisi aslinya adalah belum ada modal. Sebagai penutup artikel kali ini, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan para sahabat untuk mengunjungi Blog CITRO MDURO dan membaca tulisan yang bertajuk Bercocok Tanam Cabai Dengan Modal 200 Ribu, walaupun bukan tulisan insiratif dan kurang inovatif yang dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca ataupun anda lewat karena tersasar dan terdampar pada tulisan Bercocok Tanam Cabai Dengan Modal 200 Ribu. Kami sangat berterima kasih karena anda sudah berkenan walaupun mungkin sangat terpaksa. Silahkan tinggalkan jejak anda untuk menjalin silaturahmi, atau temukan yang anda cari tentang Bercocok Tanam Cabai Dengan Modal 200 Ribu dan salam jabat erat dari PAMEKASAN MADURA