19 Okt 2026

Bahan Renungan Di Tengah Hari Yang Bolong.

motivasi siang bolong -citromduro Siang ini panasnya minta ampun. Matahari kayaknya lagi punya dendam pribadi sama bumi, terik banget sampai-sampai aspal jalanan rasanya bisa dipakai buat ceplok telur. Di cuaca yang bikin gerah begini, ditambah tenggorokan kering, paling enak emang duduk di bawah pohon rindang, megang segelas es teh manis plastik yang embun dinginnya menetes ke tangan. Seger.

Tapi sadar enggak, sih? Di tengah kepungan hawa gerah begini, pikiran kita sering kali ikutan panas. Bukan karena suhu udara, tapi karena isi kepala yang sibuk muter lambat kayak kipas angin tua yang kurang oli. Kita mikirin ini, mikirin itu, dan yang paling sering: kita sibuk mengharapkan hal-hal yang belum tentu ada.

Kebetulan tadi saya sempat baca satu kalimat pendek yang nancep banget di dada: "Berhenti untuk terlalu berharap, mulai banyak bersyukur terhadap apa yang kita miliki. Maka hidup akan terasa lebih mudah."

Pas banget dibaca siang-siang bolong begini. Kalimat itu kayak guyuran air es yang mendadak menyiram kepala yang lagi spaneng. Bikin mikir, jangan-jangan selama ini hidup kita kerasa berat dan gerah bukan karena cobaan hidup yang berat, tapi karena cara kita memandang hidup yang kepalang ruwet.

Jebakan Harapan Tinggi di Siang Bolong
Mari kita bedah santai sambil nyruput es teh. Berharap itu sifat dasar manusia. Kita pengin kerjaan yang lebih mapan, pengin motor atau mobil baru, pengin pasangan yang tanpa cela, atau pengin hidup yang mulus kayak jalan tol yang baru diaspal. Punya harapan itu bagus, karena itu yang bikin kita bangun pagi dan berangkat kerja. Tapi kuncinya ada di kata "terlalu".
  • "Gue baru bisa happy kalau punya tabungan sekian ratus juta." 
  • "Gue baru tenang kalau punya jabatan itu."
Akhirnya apa? Kita jadi gampang kecewa. Begitu realita enggak sejalan sama rencana yang mana sering banget terjadi kita langsung merasa jadi orang paling malang sedunia. Pikiran langsung semrawut, dada sesak, dan hidup rasanya kok susah banget dijalani. Padahal, dunia enggak berputar cuma buat nurutin kemauan kita, kan? Harapan yang ketinggian itu bikin kita abai sama apa yang ada di depan mata.

Ilmu Bersyukur yang Sering Kebablasan Lupa
Nah, obat penawar dari harapan yang overdosis itu sebenarnya sederhana tapi sering kita sepelekan: bersyukur. Kedengarannya klise banget, ya? Kayak nasihat di buku-buku motivasi jadul. Tapi coba deh rasakan pelan-pelan.

Siang ini, luangkan waktu semenit aja buat melihat sekeliling. Mungkin saat ini dompet kita lagi tipis, kerjaan menumpuk bikin pusing, atau target-target tahunan masih jauh dari kata tercapai. Tapi di saat yang sama, kita masih bisa bernapas lega. Kita masih bisa menikmati segelas es teh manis seharga beberapa ribu perak yang dinginnya sampai ke lambung. Kita masih punya teman yang bisa diajak bercanda receh buat ngusir stres.

Bersyukur itu bukan berarti kita pasrah dan malas-malasan, terus enggak mau berjuang lagi. Bukan begitu konsepnya. Bersyukur itu adalah seni berdamai dengan keadaan saat ini. Menghargai apa yang sudah ada di genggaman, sebelum sibuk menjangkau apa yang masih jauh di atas awan.

Kalau kita selalu fokus pada apa yang tidak kita miliki, kita akan selalu merasa kurang. Punya motor, pengin mobil. Punya mobil, pengin yang lebih mewah. Enggak bakal ada habisnya. Kita capek sendiri ngejar bayangan yang terus lari.

Hidup yang Lebih Mudah
Ketika kita mulai mengerem harapan yang berlebihan dan menaikkan dosis rasa syukur, ada hal ajaib yang bakal terjadi. Hidup mendadak terasa lebih mudah dan ringan.

Beban di pundak rasanya berkurang satu per satu. Kenapa? Karena kita sudah melepaskan keharusan bahwa segala sesuatu harus berjalan sempurna sesuai kemauan kita. Kita belajar menerima kalau hari ini panas, ya dinikmati saja hawa panasnya sambil cari tempat berteduh. Kalau hari ini kerjaan lagi seret, ya disyukuri masih punya pekerjaan, besok dicoba lagi dengan cara yang lebih baik.

Hidup ini sebenarnya enggak serumit itu. Yang bikin rumit adalah ekspektasi kita yang sering kali menuntut dunia buat jadi sempurna.

Jadi, buat kamu yang siang ini lagi pusing mikirin target hidup yang belum kelar, atau lagi kesel karena ekspektasi enggak sesuai realita, coba tarik napas dalam-dalam. Embuskan pelan-pelan. Minum dulu es tehnya. Sadari kalau apa yang kita miliki hari ini—sekecil apa pun itu—bisa jadi adalah hal yang sangat diharapkan oleh orang lain di luar sana.

Mari kurangi berharap yang muluk-muluk, dan perbanyak ucap alhamdulillah buat hari ini. Biar sisa hari ini berjalan lebih adem, seringan angin sepoi-sepoi yang sesekali lewat di siang yang terik ini. Tetap santai, jalani pelan-pelan, hidup ini indah kalau kita tahu cara menikmatinya. Sebagai penutup artikel kali ini, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan para sahabat untuk mengunjungi Blog CITRO MDURO dan membaca tulisan yang bertajuk Bahan Renungan Di Tengah Hari Yang Bolong., walaupun bukan tulisan insiratif dan kurang inovatif yang dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca ataupun anda lewat karena tersasar dan terdampar pada tulisan Bahan Renungan Di Tengah Hari Yang Bolong.. Kami sangat berterima kasih karena anda sudah berkenan walaupun mungkin sangat terpaksa. Silahkan tinggalkan jejak anda untuk menjalin silaturahmi, atau temukan yang anda cari tentang Bahan Renungan Di Tengah Hari Yang Bolong. dan salam jabat erat dari PAMEKASAN MADURA

Posting Komentar