Masih Pantaskah Mengaku Sebagai Blogger

Paling tidak mengaku sebagai blogger pernah memiliki kesempatan menuangkan kata-kata yang mungkin saja dari sebagian kata merupakan curahan isi hati. Paling tidak pernah memiliki karya yang tidak terlalu baik dengan kata-kata indah yang puitis dan romantis. Paling tidak pernah membuat sebuah gambar yang merupakan sejarah karya terbesar yang penah dimiliki.

Fast Track Guide Internet Marketing

Sejatinya menurut saya Fast track guide internet marketing yang mudah adalah mempergunakan logika, insting, dan keyakinan. Tetap pada prinsipnya, apapun yang kita jual selama memberikan manfaat akan tetap laku dan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Cara Mudah Cek Backlink

Update algoritma menyatakan artikel terbaru dengan kata kunci serupa akan mendapat kesempatan masuk halaman pertama hasil pencarian (SERP)

Best Free SEO Tools For Blogger and Internet Marketing

Trafik yang lumayan dengan kisaran visitor 10K dan page view 30K. Tentu hal tersebut bukan semata karena keberhasilan trik SEO yang diterapkan, bisa jadi karena sebuah hal tersembunyi yang merupakan rahasia yang sulit dipecahkan dan tidak dapat ditemukan secara teoritis mempergunakan mesin pencari seperti apapun.

Memahami Duplicate Content dan How to Solve It?

Sebenarnya apa yang dikatakan dengan Duplicate Content? Ada berbagai descripsi yang menjelaskan tentang definisi duplikat konten. Ada yang menafsirkan adalah kesamaan konten atau konten serupa dalam hasil pencarian mesin pencari yang memberikan definisi sama dari web yang berbeda.

Tak Lepas dari Urusan Balapan

Tak Lepas dari Urusan BalapanSore menjelang magrib duduk sendiri di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi yang masih hangat sore hari. Menyantaikan diri sambil menunggu bedug magrib tiba, bukan untuk menunaikan ibadah buka puasa, selagi masih ingat dan diberikan kesempatan ingin menunaikan ibadah sholat magrib saja meskipun masih belum diberikan hidayah untuk melangkahkan kaki menuju masjid untuk sholat berjemaah.

Pada dasarnya memang belum tergolong orang yang taat dan tawadduk dalam beribadah dan masih terlalu sering meninggalkan kewajiban sebagai manusia yang mengaku beragama. Loh kok malah ngelantur ni tulisan menyimpang jauh dari topik yang ingin diceritakan seperti judul yang telah direncanakan.

Saat sendiri sambil menghisap asap dari lintingan dalam negeri teringat pada masa lalu. Masa-masa masih aktif sebagai salah satu pengguna radio amatir sekalipun tanpa legalitas dan ijin on air. Waktu ini masih suka utak atik dan belajar dunia elektronika. Berbaur dengan frekuensi rendah (Short Wave) dengan perangkat elektronik sederhana mencoba belajar tentang utak atik oscilator, stabilator tegangan. Dan dari situlah mulai mengenal komponen elektronika dan belajar mempergunakan solder.

Tak lepas dari urusan balapan. Jika dengan frekuensi di radio amatir, urusan balapan apaan? Waktu itu jika sedang mengudara bersama baik dengan kawan-kawan lokal maupun interlokal dari belahan local daerah bahkan propinsi lain waktu itu. Bahkan sudah pernah menjalin komunikasi dengan kawa-kawan dari tanah Sumatera, walaupun tanpa saling bertatap muka diantara satu dengan lainnya, namun candaan dan guyonan dunia on air waktu itu telah memberikan warna kehidupan. Tak jarang pula saling adu kekuatan pemancar yang dipergunakan. Satu orang breaker (sebutan untuk pengguna radio amatir waktu itu) memonitoring dari beberapa breaker lain yang sedang on air bersama pada satu frekuensi. Dihasilkan suara yang amburadul jika beberapa pemancar bertumpuk dalam satu frekuensi (krodit), namun pemancar yang terkuat akan mencuat dan memonopoli modulasi pada frekuensi tersebut.

Balapan dunia on air tidak membahayakan bagaikan balapan liar di jalanan, namun juga ada keasyikan tersendiri setelah mendengarkan rekaman hasil balapan yang diputar oleh breaker yang menjadi juri. Memang tidak ada hadiah dari balapan tersebut. Hanya kepuasan tersendiri dari hasil recording yang dipancarkan ulang setelah lomba dalam hitungan detik dilakukan.

Beberapa tahun berlalu, dan tak lagi bersentuhan dengan pemancar radio amatir setelah semua perangkat saya lelang. Tak lama kemudian saya mengenal computer dan internet. Berawal dari sekedar membuat email dan chating mempergunakan yahoo messenger sekalipun dengan teman dekat dan sangat dekat dalam satu area yang kebetulan belajar membuat email dan mempergunakan yahoo messenger. Beberapa tahun kemudian kenal dengan blogging dan blogwalking, disusul lagi dengan sedikit pengetahuan tentang SEO yang menurut saya masih penuh dengan rahasia (secret) dan teka-teki.

Dalam dunia blogging dan online ternyata masih juga tak dapat lepas dari urusan balapan. Menurut saya masih saja urusan balapan, meskipun dengan teknik dan cara serta hasil yang berbeda. Dalam dunia blogging dan internet, balapan untuk masuk pada halaman pertama hasil pencarian google, bahkan jika perlu masuk sebagai Top Rangking Google. Seakan hidup ini tak lepas dari balapan, selalu bersaing dan berlomba untuk menjadi yang terbaik meskipun standard an skalanya berbeda-beda.

Betul tidak ya, soal SEO juga bisa dikatakan balapan? Lain ladang lain belalang, lain pula mungkin tanamannya.

Siapakah Sang Patriot Kehidupan Kita?

Jika sekedar untuk menjawab sebuah pertanyaan seperti pada judul posting kali ini sepertinya bukan merupakan sesuatu yang menyulitkan. Akan banyak pilihan untuk menunjuk dan merujuk orang-orang tertentu yang telah menjadi pahlawan atau patriot dalam kehidupan kita.Dengan mudah bibir ini akan berucap kedua orang tua adalah patriot bagi kita.

Jika melirik Gambar, Kitakah Sang Patriot? Mungkin ya mungkin juga tidak, mungkin juga ada yang tak layak dan tak pantas disebut sebagai patriot.

Patriot Bangsa, wuih berat untuk kaliber 4.6 sekelas bangsa, patriot dalam keluarga sudah sangat luar biasa, bahkan menjadi patriot bagi diri sendiri.

Tak seujung rambut jika dibandingkan dengan mereka para pejuang bangsa yang telah mengorbankan harta, tahta dan segalanya demi kemerdekaan dan kedaulatan bagsa, walau dari jerih payah dan pengorban para pahlawan juga lahir para patriot-patriot Bagsat yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan harta dan tahta.

Dulu sebelum Indonesia merdeka, berjuang memerdekakan bangsa demi kedaulatan bangsa yang bermartabat. saat ini negeri kita telah bebas dari penjajahan (benarkah?), kita berjuang demi kedaulatan dan martabat diri demi harta dan tahta untuk sebuah kedudukan. Sikut kanan dan kiri, bahkan injak bawah agar bisa naik, tak perduli lagi yang penting tujuan tercapai. Apakah seperti ini yang dikatakan Sang Patriot?

Aku hanya bisa berteriak, hanya teriakan yang lantang, sementara fisikku terlalu lemah untuk mengejawantahkan teriakan-teriakan itu. Sementara mereka yang tidak lagi perduli apa yang mereka makan, tidak perduli dengan keluarga mereka, dengan masa depan anak-anak mereka dianggap sebagai sampah. Tak berarti, tak bermutu, tak berguna, tak bermanfaat. Mereka berjuang untuk dapat bertahan hidup namun hanya dijadikan kamuflase kehidupan.

Ingin jadi sang patriot, berteriaklah sekuat mungkin sekalipun hanya teriakan kosong. Berteriaklah dalam suara, dalam tulisan. Dan tulisan ini adalah bukti ketidak mampuan diri untuk menjadi patriot dalam keluarga. Hanya bisa berteriak tanpa ada bukti yang dapat ditampakkan.

Meskipun hanya sekedar menulis yang tak jelas, biarlah tulisan ini berpartisipasi dalam Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

Tak Layak Disebut Profesional

Beberapa hari terakhir menyaksikan siaran disalah satu stasiun televisi yang cukup terkenal di negeri ini. Sebuah tayangan hiburan hiburan tersebut dengan menampilkan sosok dengan bakat yang dimilik. Sebuah acara bertajuk Bukan Talent Biasa (BTB). Sebuah penilaian dari para juri yang disebut sebagai jutawan atas rasa salutnya pada seorang intertain yang mampu memberikan hiburan sekalipun sebenarnya dia sedang dalam kekalutan. Tanpa menampakkan situasi dirinya untuk memberikan hiburan dan menghibur penonton televisi diseluruh nusantara dan para penonton yang hadir di studio televisi tersebut khususnya.

Professional, begitu yang disampaikan sebagai tanggapan untuk kandidat BTB tersebut. Sedikit tanggapan singkat yang saya pahami dan peroleh dari tayangan tersebut tentang professional. Professional adalah kemampuan dan kesungguhan seseorang dalam menekuni pekerjaan tanpa terpengaruh kondisi apapun sekalipun itu harus bertentangan dengan kondisi dalam diri. Tanggung jawab dan kewajiban yang harus dilakukan sekalipun kondisi hati sedang kalut dan sedih namun harus dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik tanpa harus menampakkan kondisi yang terjadi sebenarnya. Kurang lebihnya seperti itu.

Tak Layak disebut Profesional. Apa kaitan judul dengan kalimat pembuka pada tulisan ini?

Sejak hari jumat kemaren, sebagai salah satu staff di sebuah lembaga pendidikan, saya absen dan tidak melakukan aktifitas sebagai seorang staff. Bahkan julukan yang diberikan dengan sebutan guru juga tidak saya lakukan. Dapat dikatakan membolos untuk beberapa hari. Bahkan untuk hari selasa dan rabu besok saya harus memberikan pembekalan materi kepada siswa yang akan melakukan praktek kerja industry. Namun jadwal hari pertama sudah tidak dapat saya lakukan dengan alasan pribadi. Sebuah alas an yang seharusnya tidak saya lakukan jika saya ingin bekerja secara professional dan berkompeten.

Sebuah alas an sederhana, kebetulan saya sebagai seseorang yang membutuhkan alat bantu untuk menambah rasa percaya diri dalam melakukan kegiatan tersebut, namun setelah hampir 20 tahun alat bantu tersebut ternyata harus mengalami gangguan dan harus diperbaiki sehingga saya tidak dapat bertindak secara professional untuk melakukan tugas dan kewajiban yang diberikan yaitu menyampaikan materi sebagai tambahan bekal dan pengayaan pada siswa/I yang siap untuk berangkat kedunia industry dengan kegiatan yang dinamakan praktek kerja industry.

Itulah sebabnya dalam judul tulisan ini saya menyebutkan Tak Layak Disebut Profesional. Hanya karena alat bantu kaki yang patah dan perlu diperbaiki, saya harus tidak dapat melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang staff dan mendapatkan julukan guru di hadapan para murid serta kawan-kawan sejawat lainnya. Sungguh tak layak dikatakan sebagai orang yang professional dan berkompeten dengan kondisi dan kenyataan yang dihadapi.

He.. he.. sekedar curhat aja dah, tentang kelemahan diri yang semoga saja tidak melemahkan diri dan orang lain, sekaligus apa yang diceritakan pada tulisan terdahulu bahwa tak selamanya harus original. dan ini terjadi pada diri saya pada salah satu bagian diri saya bukan sesuatu yang original.

Tak Selalu Harus Original

Tak Selalu Harus OriginalOriginal dan bermerk sepertinya sesuatu yang banyak diinginkan.Ada istilah KW1, KW2 dan lain sebagainya seakan orang yang memilih barang dengan kualitas non original hanyalah orang kelas bawah, dan menurut kalangan tertentu mungkin yang dinyatakan dengan KW adalah barang palsu dan melanggar aturan. (tapi sekedar mungkin)


Namun sepertinya tentang kualitas dan merek sangat tergantung dari kemampuan dan keberadaan, saya yakin semua orang menginginkan sesuatu yang berkualitas baik dan original. Tidak ada yang ingin kualitas nomor dua atau selebihnya, ingin memiliki sesuatu yang top dan terbaik.

Jika ditanya tentang original, Kualitas lain selain original atau barang bekas, mana yang akan saya pilih? Saya adalah seorang yang tidak terlalu suka dengan original, meskipun saya menyukai kualitas yang bagus.

Aneh tidak ya? Tidak terlalu suka original tapi menyukai denga kualitas bagus. Apa mungkin kualitas KW dapat menyaman kualitas Original?

Entahlah kalau tentang kualitas, namun yang saya rasakan sesuatu yang bukan original sangat berpengaruh terhadap kehidupan saya. Sesuatu yang tidak original telah mengalami kerusakan, namun mungkin sangat mudah diperbaiki karena onderdil yang dibutuhkan juga bukan peralatan original.

Sejak tadi siang sesuatu yang menemani selama hampir 20 tahun tak dapat lagi bersanding, dan semoga segera dapat dijadikan teman yang selalu setia. Apa itu gerangan? Tunggu saja cerita selanjutnya. Bagi mereka yang sudah dikaruniai sesuatu yang original, rawatlah dengan baik dan selalulah bersyukur dengan karunia dan kemampuan yang diberikan atas sesuatu yang original.

Bincang – Bincang Tentang Kesuksesan

Bincang – Bincang Tentang KesuksesanJam sudah hampir menunjukkan tengah malam, tapi dua lelaki muda itu masih asyik dengan obrolannya. Obralan kesana kemari tak jelas topic pembahasan yang seharusnya. Politik, ekonomi, agama, usaha dan masih banyak permasalahan yang dibicarakan walau tidak jelas ujung pangkalnya. Wong bukan pakar politik, bukan seorang ekonom, juga bukan orang yang alim soal agama dan tidak sedang menjalankan sebuah usaha. Perbincangan tak jelas dan entah kemana arah tujuannya dan hasilnya juga sebatas omong kosong dan hilang ditelap gelapnya malam dalam buaian angin dan larut dalam mimpi masing-masing.

Satu topic yang menjadi hal menarik menurut pengelola Citro Mduro dalam perbincangan tidak jelas tersebut yang hanya menghabiskan beberapa cangkir kopi dan berbatang penghasil asap tanpa harus di dapatkan sebuah kejelasan dari berbagai topic yang dibicarakan. Sebagai kesimpulan tetap atak ada kesimpulan.

Sebuah topic tentang kesuksesan dan orang sukses. Siapa sih sebenarnya orang yang sukses di kampong ini, cetus si A mengawali topic baru tentang kesuksesan dan orang sukses.

Ogah ah, aku tak mau jawab dan menunjuk siapa orang yang menurut saya sukses. Paling-paling ntar juga dibantah ma kamu jawab si B.

Sepertinya perbincangan malam itu bagaikan saling mematahkan pendapat walau tidak seperti dalam sebuah perdebatan antar caleg atau debat presiden yang sering kita tonton di televisi.

Si A mulai menyebut beberapa nama dari yang tergolong memiliki kemampuan financial cukup sampai yang tak tergolong dalam kehidupan garis kemiskinan. Apakah dia, yang sudah memiliki rumah bagus, mobil bagus dan serba baguslah menurut kamu orang sukses, atau dia yang mungkin secara financial tidak memiliki apa yang menjadi standar ukur kesuksesan seseorang secara umum? Tanya si A lagi.

Ogak ah, ntar juga kalau bilang yang itu masih ada bantahan, bilang itu juga ada bantahan. Tapi kalau saya ingat perkataan seorang teman bahwa di kampung ini ada orang sukses. Dan setelah saya amati sekalipun tidak terlalu jauh memang benar juga kata teman itu. Dia bukan tergolong orang kaya, bahkan sangat mungkin dia tergolong orang yang untuk dimakan hari ini harus mencari sekarang, tapi kenapa dia masih sempat untuk berbagi dengan tetangga walau tidak setiap saat. Mungkin beliau bisa dikatakan sebagai orang sukses.

Jadi menurut kamu dia orang yang sukses, Tanya si A. apa yang akan dimakan aja terkadang masih susah. Jadi orang sukses itu rela bersusah diri hanya untuk sekedar berbagi dengan tetangga sekalipun tetangganya tergolong orang yang mampu, begitu???

Auuuukkk, ah… bingung ngomong ma kamu. Selalu dibantah. Ketus si B.

La, katanya kamu ingin sukses. Makanya harus cari contoh dulu seperti apa menurut kita dan menurut orang lain yang dikatakan sebagai orang sukses. Kalau tidak ada tolak ukurnya, kapan kita akan sukses. Maka kita akan selalu gagal dong.

Udah capek, ngantuk aku mau tidur. Kata si B sambil bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan paseban yang jadi tempat perbincangan malam itu.

Dari sedikit ilustrasi dan ilusi diatas, apa yang menjadi tolak ukur kesuksesan? Harga, kekayaan, jabatan atau hal lain. Nah sebagai penutup dan kesimpulan obrolan malam itu bahwa tidak ada kesimpulan yang dihasilkan.

Mendapat Undangan Reuni, Apa yang Anda Rasakan?

R e u n i kurang lebihnya begitu judul dari tulisan yang sangat singkat tersebut. Posting yang hanya berisi gambar serta beberapa baris kalimat atau kata ya?
reuni

Mendapat undangan reuni.
Apakah yang anda rasakan?

Nggak berani ikutan kuis saya ya?

kurang lebihnya seperti itu hantaman yang ada pada komentar status di dinding facebook dengan update status tertera sebuah nama Citro Mduro.

Sebetulnya bukan kagak berani sich, tapi mungkin takut. Tapi penasaran juga sich tantangan kuisnya. Sebuah link diluncurkan oleh sang penantang, lututpun terasa panas mendapat tantangan tersebut. Dengan mengendarai sepeda ontel mencoba meluncur mendatangi alamat yang diberikan.

Bingung mau ngapain? kuis tanpa aturan, tanpa kejelasan saya harus bagaimana. Kok cuma segini kuisnya menurut pikir saya yang memang lelet selelet koneksi internet yang saya pakai saat ini.

Apakah saya harus menjadi orang pertama yang menyukai tulisan tersebut, seperti yang disarankan? Sepertinya tak mungkin, sudah ada 37 komentar bersarang disana. Terus saya harus ngapain?

Di diskualifikasi sebelum mendaftar jadi peserta karena keleletan yang menimpa. Diminta berkomentar kok malah nanya.

Ooooo, jadi saya berkomentar toh.

R E U N I

Belum pernah secara khusus menghadiri acara reuni berdasarkan sebuah undangan ataupun beberapa buah undangan baik tertulis, tersurat, tersirat, elektronik, lisan ataupun secara pisan.

Bagi saya reuni kapan saja jika ada waktu dan kesempatan. Tak perlu dikemas dan dibungkus dengan beragam acara yang membutuhkan banyak biaya, wong cuma melepaskan rasa kangen setelah cukup lama tidak saling bersua.

Dimanapun, dan kapanpun reunian dapat terjadi. Sering saya mengalami bernostalgia sekalipun hanya melalui lintasa udara yang tak jelas dimana rimbanya, Melalui sms, melalui jejaring sosial setelah melakukan penelusuran cukup lama dan sempat terjadi salah pilih orang. He.. he.. he...

Tapi yang jelasjika mendapat undangan reuni pasti senenglah, paling agak merengut dengan tulisan biaya kontribusi sekian. he.. he...

Mungkin ini yang dimaksud oleh pemilik tulisan tersebut. Biarlah menyalahi aturan main, karena jelas tulisan ini bukan mainan dan tidak dapat dipermainkan.

Membandingkan Speed Koneksi 2 Provider Kehabisan Kuota

Maaf sebelumnya bukan tujuan untuk provokasi, ataupun tujuan sebuah promosi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi informasi yang tak perlu direformasi, bahkan sangat mungkin tak layak konsumsi.Kali ini hanya sekedar membandingkan dan dijadikan tulisan, tidak ada tujuan lainnya.

Iseng saja sambil merangkai kata dalam bentuk draft mempergunakan aplikasi olah kata yang banyak dipergunakan, apalagi kalau bukan bisanya dengan aplikasi bajakan besutan Microsoft. Beberapa bulan terakhir memang cukup setia dengan koneksi anti lelet dan super lemot setelah pencapaian batas wajar pemakaian (FUP), si merah dengan slogannya ante lelet FUP 5GB untuk langganan unlimited 100rb, dan ternyata kuota tersebut hanya cukup sekitar 15 hari kurang lebihnya.

Beberapa hari lalu mendengar kabar bahwa si luna memiliki paket unlimited dengan FUP 2 GB dan biaya langganan 50 rb untuk 30 hari, ribu untuk satu minggu. Sebagai coba-coba pilih yang satu minggu aja dech sambil melakukan sedikit perbandingan dengan provider kesetiaan dan perlu latihan kesabaran menunggu proses loading beberapa bulan terakhir.

Al hasil, si luna meskipun sama-sama kehabisan kuota (mencapai batas wajar pemakaian) dengan biaya paket yang dibayarkan, proses speed test berjalan lancar tanpa kendala, sementara si semar masih lengket dengan speed test yang tak jua berakhir sekalipun tulisan ini akan segera diakhiri.

Untuk biaya langganan paket, semar unlimited 50 ribu kuota 2 GB selama 30 hari dan akan mengalami penurunan speed jika batas pemakaian wajar terlampau menjadi 64 kbps dari speed 512 kbps yang dijanjikan. Sementara si luna (Pro XL) speed yang ditawarkan 512 Kbps dan penurunan speed menjadi 64 Kbps setelah batas pemakaian wajar terlampaui.

Namun dari hasil test speed antara Smartfren dan Si Luna cukup berbanding jauh, sebagaimana di hasilkan gambar berikut:
Membandingkan Speed Koneksi 2 Provider Kehabisan Kuota
Hasil Speed Test Dari Luna
Membandingkan Speed Koneksi 2 Provider Kehabisan Kuota
Hasil Speed Test Dari Smartfren
Sepertinya untuk sementara waktu bernostalgia dengan luna kembali aja dech meskipun tidak terlalu cepat yang penting masih bisa update tulisan cerita ringan dan bahasa yang tidak beraturan pada blog yang teramat sangat sederhana ini. Semoga saja proses pemasangan kabel FO (Fiber Optic) yang katanya merupakan proyek provider luna segera terselesaikan dan dapat menikmati akses internet yang memadai dengan tariff yang tidak terlalu mahal dan membuat kantong terasa ringan mendadak.

Segala keputusan terserah anda, silahkan pilih provider terpercaya karena setiap daerah akan memberikan result yang berbeda untuk hasil speed test