Antara Kesibukan dan Kekurangan | Hidup Penuh Kebahagiaan

Lelaki muda itu duduk terdiam di pojok warung. Sesekali sebatang lintingan yang mengeluarkan asap putih dihisap dalam-dalam. Seakan helaan nafas dalam dan tertahan di dada.

Asap yang dikatakan racun itu seakan tak buatnya sesak dan pusing. Stresskah orang itu. Menikmati racun yang orang katakan.

Sesekali dia berdiri sambil mengepulkan asap putih dari kedua hidungnya. Berjalan mondar mandir sesekali memegang dahinya, seakan ada sesuatu yang di pikirkan.

Lelaki belum parah baya itu bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak tetap. Kerja kerasnya harus dibagi dua dengan pemilik tanah. Sementara keluarga dirumah membutuhkan biaya yang tidak sedikit dari penghasilan yang dia peroleh. Biaya sekolah anak yang kian hari kian meningkat. Biaya hidup yang setiap saat merangkak naik.

Aparat pemerintah dan wakil rakyat yang peduli rakyat melalui teriakan mereka, seakan tidak pernah melihat dan mendengar rintihan dari hati kecil mereka. sementara hiruk pikuk suara musik house dari sebuah gedung tak dapat memberikan hiburan bagi keluarga lelaki belum paruh baya itu.

Beberapa saat kemudian lelaki itu menghilang dari sudut warung, entah kemana lelaki itu berlalu.

Waktu menjelang gelap. Dari sebuah surau yang kalah mewah dengan gedung-gedung sekitarnya terdengar kumandang adzan magrib. Terlihat lelaki belum paruh baya itu melangkah santai menuju suara adzan berkumandang. Tidak seperti siang tadi di pojok warung. Wajah berseri dengan pakaian sederhana dan kopyah yang sudah agak memerah warnanya.

Waktu sholat telah berakhir, lelaki belum parah baya itu keluar terakhir meskipun jemaah yang lain bergegas menuju rumah mereka masing-masing.

Perlahan, santai namun pasti langkah kaki lelaki belum paruh baya itu. Beralaskan tikar yang rusak bagian pinggir, istri dan dua anaknya menunggu sang pemimpin untuk makan malam bersama.

Nikmat terasa makan bersama ala kadarnya. Beberapa waktu kemudian si sulung berkata "Bu, nasinya kurang". Dengan tersenyum lelaki belum paruh baya itupun menyisihkan sebagian nasi di piringnya untuk si kecil. "Makan yang kenyang ya biar cepat besar dan pintar", ucap lelaki belum paruh baya itu.

Dengan lauk daun singkongpun terasa lahap keluarga itu menyantap makan malam mereka beralaskan tikar yang tidak lagi bagus. Senyum simpul terlihat pada gores bibir sepasang keluarga menghadapi anak-anaknya. Seakan bahagia melihat anak mereka lahap makan dengan lauk daun singkong. Sementara rasa laparnya belum terobati, lelaki belum paruh baya dan istrinya tersenyum sembari mengucap rasa syukur pada penciptanya.

Sahabat tercinta. Kehidupan tidak selalu diukur dengan materi. Kebahagiaan dan kebersamaan dalam keluarga akan menghadirkan senyum kebahagiaan diatara kesibukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang masih jauh dari cukup.
Sebagai penutup artikel kali ini, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan para sahabat untuk mengunjungi Blog CITRO MDURO dan membaca tulisan yang bertajuk Antara Kesibukan dan Kekurangan | Hidup Penuh Kebahagiaan, walaupun bukan tulisan insiratif dan kurang inovatif yang dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca ataupun anda sekedar lewat karena tersasar dan terdampar pada tulisan tersebut. Kami sangat berterima kasih karena anda sudah berkenan walaupun mungkin sangat terpaksa. Silahkan tinggalkan jejak anda untuk menjalin silaturahmi, atau temukan yang anda cari melalui G O O G L E dan salam jabat erat dari PAMEKASAN MADURA

0 komentar:

Posting Komentar