Desember Penuh Kepiluan

Hari itu sabtu, seperti biasa melakukan rutinitas sebagai tenaga harian lepas di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan dekat rumah.Dari pagi sampai siang nungguin kelas bersama siswa-siswi Berrtugas sebagai multi fungsi staff tata usaha sekaligus menjadi pendidik walaupun tidak berpendidikan.

Selesai kegiatan di sekolah, sepert biasa aku tidak langsung pulang dengan beberapa teman. Standby di sekolah terkadang sampai sore, kecuali ada hal penting yang harus dilakukan dirumah atau urusan lain. Kami memang termasuk tenaga-tenaga yang penuh santai dan suka nyantai sehingga sangat kerasan untuk berlama-lama disekolah meskipun tidak ada kerjaan yang harus dilembur. Selebih oprek blog atau sekedar nongkrong di warung blogger.

Keesokan harinya (Minggu), dari beberapa rekan mendapat kesempatan untu mengikuti workshop di kota gratis karena pihak penyelenggara meminjam beberapa peralatan dari sekolah, 4 personel mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut. Entah apa materi workshop tersebut sudah lupa.

Siang pas waktu isoma, kami berempat menuju musholla untuk sholat dhuhur sebelum menikmati katering yang dibagikan sebagai makan siang oleh penyelenggara. Selesai sholat kami duduk santai di depan emper sebuah bangunan di bawah pohon. Tiba-tiba handphone yang baru saja diaktifkan begetar dalam saku celana.

Telepon dari nomor yang sudah tidak asing lagi, terdengar suara terbata-bata yang menyuruhku untuk segera pulang. Keponakanku yang cewek satu-satunya dari 7 saudara sepupuan telah dipanggil menghadap-Nya pada usia masih belia. Bukan kepergiannya yang menjadikan aku merasa bersedih, namun ocehannya setiap hari yang gemar membaca meskipun korang usang dan cita-citanya untuk masuk pesantren dan ingin menghafal Alqur'an. Jika teringat itupun ibuku, istriku masih sering meneteskan air mata. Gadis kecil belia yang pergi tanpa sakit sebelumnya.

Bapak juga merasa terpukul dengan kepergian cucu perempuan satu-satunya yang patuh dan menceritakan cita-citanya untuk masuk pesantren selepas SD. Bukan cuma bapak dan Ibu, kakak-kakaknyapun merasa kehilangan karena selama itu sebagai seorang cewek satu-satunya seakan disia-siakan.

Semenjak kepergian cucunya, kesehatan bapak menurun. 13 hari setelah kepergian cucunya, Bapak menyusul sang cucu menghadap Sang Khalik. Dalam 13 hari keluarga kami kehilangan putri kebanggaan yang memiliki cita-cita luhur pada usia 6 tahun, Bapak tercinta menyusul kepergian sang cucu karena sok dan serangan ginjal yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Hari-hari kepiluan itu masih sering datang, meskipun kami berusaha merelakan kepergian mereka berdua. Kepiluan kembali ada ketika si kecil berkata Ada kakek dan mbak naik ke surau (tempat mereka sering belajar ngaji bersama dan bercanda).

Keberadaanya sangat berarti dan terasa setelah kepergiannya. Selama ini aku tidak pernah patuh pada bapak. Bapak menginginkan anaknya berpendidikan, namun apa yang telah aku perbuat sebagai seorang anak. 14 Tahun kuliahku tak kunjung kelar. Kapan aku akan menjadi orang yang dapat berpikir secara dewasa?

Citro Mduro berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes - Jeng Dewi - Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108“


Terima kasih anda telah berkenan untuk melihat Blog CITRO MDURO dan membaca tulisan yang bertajuk Desember Penuh Kepiluan, walaupun bukan tulisan insiratif dan kurang inovatif yang dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca ataupun anda sekedar lewat karena tersasar dan terdampar pada tulisan tersebut. Kami sangat berterima kasih karena anda sudah berkenan walaupun mungkin sangat terpaksa. Silahkan tinggalkan jejak anda untuk menjalin silaturahmi, atau temukan yang anda cari melalui G O O G L E dan salam jabat erat dari PAMEKASAN MADURA

0 komentar:

Posting Komentar